Sabtu, 03 November 2012

MORFOLOGI BUNGA JAGUNG



BUNGA JAGUNG
MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas Matakuliah Morfologi Tumbuhan
yang dibina oleh Ibu Susriati Mahanal


Oleh
Inti Firdaus (110341421567)
Novita Rizky Akmalia (110341421570)
Offering C







The Learning University





UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Oktober 2012
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
 Jagung (Zea mays) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting selain gandum dan padi, yaitu sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan. Jagung juga sebagai alternatif sumber makanan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil makanannya dari biji, di buat tepung (dari tepung biji), bahan baku industri (dari tepung biji dan tongkolnya ). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai bahan farmasi (Dahlan, 1992).
Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret. Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman atau pada   malai   bunga   di   ujung tanaman berupa karangan bunga (inflorescence), yang ditandai dengan adanya rambut atau tassel dan bunga betina terletak di ketiak daun dan akan mengeluarkan stil dan stigma (Idris, Zainal, Mohammad, Lassim,   Norman dan Hashim,1982 dalam Universitas Sumatra Utara).
Jagung yang kita konsumsi ternyata adalah bagian dari bunga betina, sedangkan bunga jantannya berada pada pucuk tanaman dan berupa bulir-bulir mirip padi. Pada hasil laporan praktikum pengamatan bunga betina dan jantan jagung diharapkan ke depannya pembaca dapat mengetahui struktur morfologi bunga jantan jagung dan bunga betina jagung. Selain itu juga, pembaca dapat membuat rumus bunga dan menggambar diagram bunga.


B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana struktur morfologi pada bunga jantan Zea mays?
2.      Bagaimana struktur morfologi pada bunga betina Zea mays?

C.    Tujuan
1.      Untuk memahami  struktur morfologi pada bunga jantan Zea mays.
2.      Untuk memahami  struktur morfologi pada bunga betina Zea mays.

D.    Dasar Teori
Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu kali siklus hidupnya berkisar antara 80 – 150 hari. Paruh pertama pertumbuhan jagung merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua merupakan tahap pertumbuhan generatif. Tinggi tanaman jagung bervariasi tergantung dari varietas dan lingkungan tempat tumbuhnya. Meskipun umumnya tanaman jagung berketinggian antara 1 meter sampai 3 meter, ada varietas yang dapat mencapai ketinggian 6 meter. Akar tanaman jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 meter, meskipun sebagian besar ada pada kisaran 2 meter. Pada tanaman yang sudah cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman. Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu tetapi tidak seperti padi atau gandum. Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset. Batang berbentuk ruas dan terbungkus oleh pelepah daun yang muncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh namun tidak mengandung banyak lignin (Wenny,2007).
Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stoma pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae. Setiap stoma dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun. Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur bunga khas yang disebut floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal:gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun. Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik.Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya (protandri) (Wenny,2007).
Bunga betina tersusun dalam tongkol yang tumbuh diantara batang dan pelepah daun (Suprapto, 1999). Bunga betina ini biasanya disebut tongkol selalu dibungkus kelopak-kelopak yang jumlahnya sekitar 6-14 helai (Wakman dan Burhanuddin, 2007).Pada  umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga (Suprapto, 1999).
              Bunga jantan terletak dipucuk. Bunga jagung tergolong bunga tidak lengkap karena struktur bunganya tidak mempunyai petal  dan sepal dimana organ bunga jantan (staminate) dan organ bunga betina (pestilate ) tidak terdapat dalam satu bunga disebut berumah satu (Sudjana, Rifin dan Sudjadi, 1991).
            Berdasarkan jumlah bunga dapat dibedakan menjadi bunga tunggal (planta uniflora) dan bunga majemuk (planta multiflora). Bunga majemuk dapat dibedakan menjadi bunga majemuk tak berbatas (monochasial, dichasial, pleiochasial, racemus, spica, amentum, spadix, umbella, corymbus,capitulum, hypanthodium, panicula, corymbus ramosus, umbella coposita, tongkol majemuk, bulir majemuk), bunga majemuk berbatas (dichasium,cincinnus, bostryx, drepanium, rhipidium) dan bunga majemuk campuran. Bagian-bagian dari bunga adalah pedicellus, receptaculum, perianthium (kalyx, corolla), androecium dan gynaecium. (Tjitrosoepomo, 2005).
            Berdasarkan kelengkapan bunga, dapat dibagi menjadi 2 yaitu bunga lengkap (flos completusl) dan tidak lengkap (flos incompletus). Kelamin bunga dibedakan menjadi 3 yaitu hermaphroditus, unisexualis (flos masculus, flos femineus), bunga mandul. Pembagian tempat antara bagian bunga yang satu dengan bunga yang lan adalah tersebar, cyclis, hemicyclis, alternatio, superpositio. Simetri pada bunga dibagi atas asimetris, zygomorphus, disimetris dan actinomorphus. Letak daun mahkota atau kelopak dengan sesamanya dapat dibagi menjadi aperta, valvata, induplicativa, reduplicativa dan imbricata  (Tjitrosoepomo, 2005).
            Berdasarkan letak bakal buah pada dasar bunga dapat dibagi menjadi superus, inferus dan semi inferus. Perlekatan antar mahkota, kelopak dan tenda bunga dapat digolongkan menjadi gamosepalus, gamopetalus, gamotepalus, polisepalus, polipetalus dan politepalus. Melihat simetrinya, bentuk kelopak dapat dibedakan dalam dua golongan yaitu actnomorphus dan zygomorphus. Mengenai duduknya benang sari terhadap daun-daun tajuk ada dua kemungkinan, diplostemon atau obdiplostemon. Kedudukan benang sari dapat dibagi menjadi eisepal dan epipetal. Melihat jumlah berkas filamentum dapat igolongkan menjadi monadhelpus dan diadelphus. Sedangkan putik, berdasarkan banyaknya daun buah yang menyusun bisa digolongkan di simplex atau compositus. Tembuni pada bunga berdasarkan letaknya dapat digolongkan menjadi marginal, lminal, parietal, central dan aksilar (Tjitrosoepomo, 2005). 
           
E.     Tempat
1.      Pengambilan bunga betina jagung di Kabupaten Trenggalek.
2.      Pengambilan bunga jantan jagung di Desa Pleret Kota Pasuruan.

F.     Hari/Tanggal
Senin, 29 Oktober 2012


G.   
1.      Menyiapkan bunga jagung betina dan bunga jagung jantan.
Cara Kerja


 

·         Menentukan tipe perbungaan masing-masing
·         Menghitung jumlah bunga pada satu tangkai dan urut-urutan mekarnya bunga.
·         Mengelompokkan menjadi bunga majemuk berbatas atau tak berbatas.
·         Mengamati bunga jagung pada kelengkapan bunga, keadaan bunga, aetvatio, andresium, ginesium dan plasenta.

2.      Menyiapkan bunga jagung betina dan bunga jagung jantan.
 





·         Menganalisis dan membahas data hasil pengamatan bunga betina dan jantan jagung.
·         Menentukan rumus bunga jantan dan betina serta menggamar diagram bunganya.



3.      Menyimpulkan hasil pembahasan dan analisis data tentang bunga betina dan jantan jagung
 


                                                                                                       




H.    Data
Aspek
Bunga jantan
Bunga betina
1.    Identifikasi bunga
Majemuk tak berbatas (bulir majemuk)
Majemuk tak berbatas
(spadix)
2.      Kelengkapan bunga
a.       Flos incompletus
b.      Flos unisexual
c.       Flos masculus
d.      Planta monoecius
a.       Flos incompletus
b.      Flos unisexualis
c.       Flos feminius
d.      Planta monoecius
3.      Keadaan bunga
a.       Siklis
b.      Aktinomorphus
c.       Politepalus
a.    Siklis
b.      Alternatio
c.       Asimetricus
d.      Politepalus
4.      Andresium
a.       Diadelphus
Tidak memiliki andresium
5.      Ginesium
Tidak memiliki gensium
a.       Simplex
b.      Superus
c.       Apokap
6.      Plasenta
Tidak memiliki plasenta
Marjinalis
7.      Rumus bunga
♂, *, P4, A3+3, G0
♀, P3, G1

Diagram bunga jagung jantan
Diagram bunga jagung betina









BAB II
PEMBAHASAN

            Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, bunga betina dan jantan pada jagung merupakan bunga majemuk tak berbatas karena ibu tangkainya dapat tumbuh terus, dengan cabang-cabang yang bercabang lagi atau tidak (Tjitrosoepomo, 2005). Bunga betina pada bunga jagung merupakan tongkol yang terdapat pada bunga tersebut, sedangkan bunga jantan merupakan bulir-bulir yang ada di ujung sumbu tanaman jagung.
Ditinjau dari kelengkapan bunganya masuk ke dalam bunga tidak lengkap atau bunga tidak sempurna (Flos incompletus), karena salah bagian benang sari tidak ada di dalam bunga betina jagung dan putik tidak ada pada bunga jantan jagung.
Dalam satu tumbuhan jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina sehingga disebut Planta monoecius (Tjitrosoepomo, 2005). Berdasarkan letak dan susunan bagian bunga, bunga jagung betina dan bunga bunga jantan tersusun dalam lingkaran (cyclis). Bertalian dengan simetrinya bunga betina pada jagung termasuk asymetricus karena pada bunga betina tidak dapat dibuat satu bidang simetri. Sedangkan pada bunga jantan jagung termsuk dalam aktinomorphus karena dapat dibuat banyak bidang simetris. Bunga betina dan jantan pada jagung sebenarnya memiliki kelopak dan mahkota tetapi diantara keduanya tidak dapat dibedakan dalam kelopak dan mahkota, hiasan bunga seperti ini disebut dengan tenda bunga perigonium. Letak antar perigonium adalah adalah politepalus, karena tidak berlekatan.
Alat kelamin betina pada bunga jagung memiliki lebih dari dua daun buah sehingga disebut putik tunggal (simplex). Menurut letak ginesium terhadap dasar bunga, bakal buah duduk di atas dasar bunga (superus). Perlekatan daun-daun buah yang membentuk putik pada bunga betina jagung disebut apokarp karena perlekatan daun buah membentuk satu ruang saja. Letak tembuni (plasenta) termasuk tipe marjinalis, yaitu terletak di tepi daun buah (Tjitrosoepomo, 2005).
Alat kelamin jantan pada bunga jagung termasuk dalam diadelhus karena benang sari terbagi menjadi dua kelompok dengan tangkai yang berlekatan dengan masing-masing dalam masing-masing kelompok (Tjitrosoepomo, 2005)






BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Bunga jantan jagung merupakan bunga majemuk tak terbatas – bulir majemuk. Kelengkapan bunga termasuk flos incompletus, flos unsexual, flos masculus dan planta monoecius. Keadaan bunga jantan jagung adalah siklis, aktinomorphus dan politepalus. Andresium termasuk diadelphus. Bunga jantan jagung tidak memiliki ginesium dan plasenta. Rumus bunga untuk bunga jantan jagung adalah ♂, *, P4, A3+3, G0
2.      Bunga betina jagung adalah bunga majemuk tak terbatas – spadix. Kelengkapan bunga betina jagung adalah flos incompletus, flos unisexualis, flos feminius dan planta monoecius. Keadaan bunga betina jagung adalah siklis, alternatio, asimetricus dan politepalus. Ginesium pada bunga betina jagung adalah simplex, superus dan apokarp. Plasenta termasuk marjinalis. Rumus bunga untuk bunga betina jagung adalah ♀, P3, G1

B.     Saran
1.      Dibutuhkan bimbingan dari asisten dosen atau dosen untuk pengamatan.
2.      Dibutuhkan literatur yang cukup lengkap dna terpercaya untuk pengamatan, karena literatur yang didapatkan seringkali berbeda-beda sehingga menyulitkan praktikan untuk memperoleh suatu kesimpulan.
3.      Pengamatan sebaiknya dilakukan di dalam laboratorium, karena bunga cukup kecil sehingga dibutuhkan mikroskop stereo dan lup yang tidak dimiliki praktikan untuk melakukn praktikum.





DAFTAR RUJUKAN

Dahlan,M. 1992. Pembentukan Benih Jagung Hibrida. Malang : Balai Penelitian Pangan.
Tjitrosoepomo, G. 2005. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Universitas Sumatra Utara. 2011. Bunga Jagung. (online) http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23043/5/Chapter%20II.pdf . Diakses tanggal 28 Oktober 2012
Wenny. 2007. Manfaat Jagung Muda.(online)http://www.mail-archive.com/balita-anda@balita-anda.com/. Diakses tanggal 28 Oktober 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar