Sabtu, 18 Februari 2012

Rendahnya Kemampuan Menulis Mahasiswa Indonesia


Inti firdaus
110341421567
Biologi / C’2011
Karya Tulis Menangis
            Menulis merupakan kegiatan berkomunikasi antarsesama manusia dengan media berupa bahasa tulis. Berkomunikasi antar dua orang dengan bahasa tulis dapat dilakukan melalui surat menyurat. Berkomunikasi dengan tujuan menyampaikan ide atau gagasan kepada banyak orang dengan bahasa tulis dilakukan melalui penulisan artikel atau buku. Ahmadi (1990) mendefinisikan ”Menulis merupakan suatu perbuatan atau kegiatan komunikatif antara penulis dan pembaca.” (Lis, 2007)
            Menulis sangat penting untuk dilakukan oleh setiap orang. Setiap orang perlu melakukan komunikasi dengan menulis. Menulis dapat dibagi menjadi beberapa jenis, seperti menulis surat, menulis karangan atau menulis karya tulis ilmiah. Menulis karya ilmiah diperlukan untuk menyampaikan suatu hasil kajian atau penelitian. Oleh karena itu, mahasiswa Indonesia kini disibukkan menulis laporan praktikum, jurnal, makalah, hingga skripsi sebagai bentuk penyampaian informasi tentang adanya penelitian atau hasil kajian yang telah mereka buat. Ide atau gagasan tentang sebuah topik harus tersusun dalam bentuk karya tulis ilmiah. Karya tulis ilmiah haruslah memuat data dan fakta yang diungkap dari hasil penelitian, pengamatan dan peninjauan.
            Sebagian besar orang menganggap bahwa kemampuan menulis ilmiah oleh mahasiswa masih rendah. Hal itu dibuktikan oleh sedikitnya karya ilmiah mahasiswa Indonesia yang diterima di ranah Internasional bila dibandingkan dengan negara maju lain di dunia atau bahkan di Asia tenggara. Berdasarkan data Indonesian Scientific Journal Database terdata sekitar 13.047 buah jurnal di Indonesia yang berkategori ilmiah yang masih aktif, sangat tertinggal jauh dari  Malaysia yang sudah 55.211 dan Thailand 58.931.
            Rendahnya kemampuan mahasiswa dalam menulis ilmiah disebabkan karena kurangnya minat membaca mahasiswa dan sebagian besar penduduk Indonesia. Kedua kegiatan ini saling mempengaruhi. Membaca itu referensi untuk menulis. Bagaimana bisa seseorang menulis jika tidak suka membaca. Mustahil seseorang bisa menulis kalau yang bersangkutan tidak suka membaca karena kedua kegiatan saling beriringan (Abdul, 2011). Perbandingan dapat dilakukan dengan pengamatan di tempat-tempat umum seperti stasiun, terminal dan di dalam kendaraan umum. Masyarakat di negara-negara maju seperti Jepang dan Inggris menggunakan waktu senggang yang mereka miliki untuk membaca. Mereka selalu membawa buku saku hingga buku besar untuk dibaca di tempat umum. Di Indonesia pada tempat tersebut terjadi sesuatu yang sangat berbeda. Masyarakat Indonesia jarang yang menghabiskan waktu luang dengan membaca buku seperti di negara maju lainnya. Mereka lebih suka mengobrol, bermain alat elektronik, bahkan tidur. Namun, ada juga beberapa orang yang masih membaca koran.
Taufiq Ismail, seorang penyair Angkatan 66, melihat generasi muda kita buta membaca dan lumpuh menulis sangat beralasan. Dia melihat hal ini sebagai akibat buruk dari dimatikannya kewajiban membaca 25 buku dan mengarang 40 jam setahun bagi murid-murid SMA, yang terjadi sejak berakhirnya sistem pendidikan AMS (setingkat SMA di zaman Belanda). Kurikulum pendidikan yang tidak menganggap membaca dan menulis sebagai pelajaran penting adalah akar penyebab rendahnya kemampuan menulis pemuda kita saat ini (Joni, 2012)
            Adapun faktor lain penyebab rendahnya kemampuan menulis karya ilmiah juga dipengaruhi oleh kurangnya pengakuan dari pemerintah terhadap karya tulis mahasiswa Indonesia yang berkualitas. Hal itu membuat mahasiswa berpikir, “Untuk apa susah-susah membuat karya tulis yang baik, toh dari pemerintah tidak ada penghargaan, hanya buang-buang waktu saja.” Sedangkan di luar negeri, mahasiswanya benar-benar mendapat respon positif dan perhatian dari pemerintah. Oleh karena itu, banyak mahasiswa Indonesia yang akhirnya memutuskan bekerja di luar negeri karena lebih mendapat pengakuan dan penghargaan atas karyanya. Padahal jika diterapkan di Indonesia, karya tulis para mahasiswa itu dapat memajukan negara ini. “Hasil kerja dari para peneliti kurang di-support pemerintah, setidaknya ada upaya pemerintah memberikan ruang gerak bagi peneliti untuk lebih mempromosikan hasil penelitian. Para peneliti pastinya sangat bangga jika hasil penelitiannya digunakan masyarakat luas, tetapi nyatanya produk para peneliti banyak disampingkan,” (Putrahermanto, 2010)
            Setelah mengetahui fakta tentang karya tulis mahasiswa saat ini, seharusnya hati kita tergerak untuk turut memperbaiki keadaan tersebut. Banyak pihak yang dibutuhkan untuk memperbaiki keadaan ini seperti pemerintah, orang tua, guru/dosen dan yang paling pokok adalah mahasiswa Indonesia. Pemerintah seharusnya bisa lebih mengahargai karya anak bangsa sehingga mereka tidak lari ke luar untuk bekerja. Pemerintah bisa memulai dengan memberikan penghargaan dan pekerjaan yang layak dengan gaji yang pantas, sesuai dengan apa yang dikerjakan. Dengan begitu, setidaknya dapat mengurangi ilmuwan yang bekerja ke luar negeri dan mereka pun akan mengabdi pada negara Indonesia sehingga Indonesia dapat menjadi negara maju karena memiliki ilmuwan yang benar-benar mengabdi pada negara kelahirannya. Selain dari pemerintah, dukungan juga dibutuhkan dari orang tua. Orang tua seharusnya mulai memberikan budaya membaca sejak kecil. Agar saat kelak dewasa atau menjadi mahasiswa, dia memiliki rasa ingin membaca yang tinggi. Kemudian untuk guru/dosen harus memberi dukungan dan pengarahan untuk anak didiknya agar meningkatkan kegiatan membaca dan menulis. Dari mahasiswa sendiri, mereka mesti optimis bahwa mereka mampu untuk membuat suatu karya  tulis ilmiah, serta mulai membiasakan diri untuk cinta membaca.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar